Minggu, 09 Maret 2014



PENGARUH  MASSA HEWAN
TERHADAP FREKUENSI PERNAPASAN
                      Diajukan sebagai tugas praktikum biologi



 










               Oleh                  :
1.Andriyani Prasetiyowati
2.Badriatus Saidah
3.Bima Fajar Setiawan
4.Dhimas Pradana Hari Saputra
Pemerintah Kabupaten Pati
Dinas Pendidikan
Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Pati
Jln. Achmad Yani No.4 Pati Kode Pos 59112 Telepon: (0295) 381211-381
http: www.sma2pati.sch.id Faximile: (0295) 381211

Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Laporan Biologi dengan baik dan lancar. Laporan Biologi  Pengaruh massa hewan terhadap frekuensi pernapasan disusun dalam rangka memenuhi tugas Biologi. Selain itu, percobaan ini dilakukan untuk mempelajari pernapasan hewan dan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah kebutuhan oksigen pada hewan pada saat bernapas.
Penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terselesaikannya laporan Karya Ilmiah ini, yaitu:
1.        Bapak Drs. Sutowo, M. Pd., selaku Kepala SMA Negeri 2 Pati yang telah memberikan izin percobaan .
2.        Ibu Eni Sulistyawati , S. Pd., selaku pembimbing materi yang telah memberikan motivasi dan arahan.
3.        Berbagai pihak yang yang telah membantu penulisan laporan biologi ini.
Diharapkan laporan Biologi ini bermanfaat bagi pembaca, pemerhati, dan pengembangan ilmu pengetahuan di masa yang akan datang. Tiada gading yang tak retak. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan saran dan kritik dari pembaca demi kesempurnaan tulisan di masa yang akan datang.

Pati, 8 Maret 2014
Penulis



BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang masalah
Setiap mahluk hidup yang menmpati dunia ini , sejatinya mereka membutuhkan oksigen untuk bisa bertahan hidup. Sama halnya dengan serangga khususnya jangkrik , mahluk ini juga membutuhkan oksigen untuk tetap hidup . Serangga bernapas atau menghirup oksigen menggunakan trakea. Pembuluh trakea bermuara pada lubang kecil yang ada di kerangka luar yang di sebut spirakel yang berbentuk pembuluh silindris yang berlapis zat kitin dan terletak berpasangan pada setiap segmen tubuh. Spirakel memiliki katup yang dikontrol oleh otot sehingga dapat membuka dan menutup secara teratur. Oksigen dari luar masuk lewat spirakel,kemudian udara dari spirakel menuju pembuluh-pembuluh trakea dan selanjutnya pembuluh trakea bercabang lagi menjadi cabang halus yang disebut trakeolus sehingga dapat mencapai seluruh jaringan dan alat tubuh bagian dalam. Pada setiap mahkluk hidup (manusia dan vertebrta)Dalam pernapasan di lakukan dua tahap :
a. pertukaran gas dari udara luar atau udara bebas ke dalam sel-sel darah pada jaringan epitel selaput aveolus.pertukaran gas ini di kenal dengan Pernapasan luar atau respirasi eksternal  
b. pertukaran gas daari sel-sel darah dalam kapiler dengan sel-sel jaringan tubuh. Pertukaran gas ini di kenal dengan Pernapasan dalam atau Respirasi internal
Respirasi secara umum merupakan salah satu gejala fisiologis makhluk hidup untuk memperoleh energi dengan cara pembongkaran sari makanan melalui pengambilan oksigen (O2) dan pengeluaran karbondioksida (CO2).
Frekuensi pernafasan mahluk hidup berbeda antar satu dengan yang lain. Frekuensi pernapasan dipengaruholeh beberapa faktor antara lain: Jenis kelamin,umur,posisi tubuh,kegiatan tubuh dan suhu tubuh. Dan untuk serangga sendiri frekuensi pernapasannya berbeda antara serangga satu dengan serangga yang lain walaupun satu spesies . Kita akan membandingkan serangga satu spesies namun berbeda massanya . Di dalam praktikum ini, akan dijelaskan bagaimana pernapasan atau respirasi pada hewan yakni jangkrik.
B.         Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan sebagai berikut  :       
1.      Apakah fungsi KOH/NaOH dalam percobaan?
2.      Apakah fungsi eosin dalam percobaan?
3.      Faktor apakah yang mempengaruhi pergeseran eosin?
4.      Manakah laju pergeseran kedudukan eosin tercepat dari serangga yang anda uji?Mengapa demikian?
C.  Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah tersebut di atas bertujuan untuk :
1.      Mempelajari pernapasan hewan
2.      Melihat faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah kebutuhan oksigen pada hewan pada saat bernapas.
D.   Manfaat
Penelitian ini diharapkan bermanfaat :
1.        Penelitian ini diharapkan dapat  memberikan pemahaman kepada siswa mengenai pernapasan pada hewan , khusunya serangga.
2.        Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada siswa mengenai faktor yang mempengaruhi jumlah kebutuhan oksigen pada hewan pada saat bernapas.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Bernafas merupakan salah satu ciri dan aktivitas makhluk hidup. Istilah pernafasan sering di sama artikan dengan istilah Respirasi, walau sebenarnya kedua istilah tersebut secara harfiah berbeda. Pernafasan (breathing) berarti menghirup dan menghembuskan nafas. Bernafas berarti memasukkan udara dari lingkungan luar ke dalam tubuh dan mengeluarkan udara sisa dari dalam tubuh ke lingkungan luar. Sedangkan respirasi (respiration) berarti suatu proses pembakaran (oksidasi) senyawa organik (bahan makanan) di dalam sel guna memperoleh energi.
Pada hewan – hewan tingkat tinggi terdapat alat untuk proses pernafasan, yakni berupa paru – paru, insang atau trakea, sementara pada hewan – hewan tingkat rendah dan tumbuhan proses pertukaran udara tersebut dilakukan secara langsung dengan difusi melalui permukaan sel–sel tubuhnya. Dari alat pernafasan, oksigen masih harus di angkut oleh darah atau cairan tubuh ke seluruh sel tubuh yang membutuhkan. Selanjutnya oksigen tersebut akan dimanfaatkan untuk oksidasi di dalam sel guna menghasilkan energi.
Respirasi bertujuan untuk menghasilkan energi. Energi hasil respirasi tersebut sangat diperlukan untuk aktivitas hidup, seperti mengatur suhu tubuh, pergerakan, pertumbuhan dan reproduksi. Jadi kegiatan pernafasan dan respirasi tersebut saling berhubungan karena pada proses pernafasan dimasukkan udara dari luar (oksigen) dan oksigen tersebut digunakan untuk proses respirasi guna memperoleh energi dan selanjutnya sisa respirasi berupa gas karbon dioksida (CO2) dikelurkan melalui proses pernafasan.
Karena hewan-hewan tingkat rendah dan tumbuhan tidak memiliki alat pernafasan khusus sehingga oksigen dapat langsung masuk dengan cara difusi, maka sering kali istilah pernafasan disamakan dengan istilah respirasi. Dengan demikian perbedaan kedua istilah itu tidak mutlak.
Untuk bernafas, hewan-hewan tertentu memiliki alat pernafasan. Alat-alat pernafasan tersebut berperan dalam proses pemasukan oksigen dari lingkungan luar ke dalam tubuh serta pengeluaran CO2 dari tubuh kelingkungan luar. Alat-alat pernafasan pada hewan berbeda-beda sesuai dengan perkembangan struktur tubuh dan tempat hidupnya. Hewan darat menggunakan paru-paru untuk bernafas dan pada kelompok burung, paru-paru dilengkapi dengan kantong udara. Pada katak dewasa selain menggunakan paru-paru juga menggunakan kulit untuk membantu pernafasan. Hewan yang hidup diperairan (hewan akuatik), misalnya ikan dan udang mempunyai insang. Serangga umumnya mempunyai alat perrnafasan berupa trakea dan hewan invertebrata yang lain memiliki organ yang berbeda pula.
Alat pernafasan hewan pada dasarnya berupa alat pemasukan dan alat pengangkutan udara. Apabila alat pemasukan ke dalam tubuh tidak ada, maka pemasukan oksigen dilakukan dengan cara difusi, misalnya pada protozoa. Pada cacing tanah, oksigen masuk secara difusi melalui permukaan tubuh, kemudian masuk ke pembuluh darah. Di dalam darah, oksigen di ikat oleh pigmen-pigmen darah, yaitu hemoglobin yang larut dalam plasma darah. Pada hewan lain, hemoglobin terkandung di dalam sel darah merah (eritrosit).

Laju metabolisme adalah jumlah total energi yang diproduksi oleh tubuh per satuan waktu. Laju metabolisme berkaitan erat dengan respirasi karena respirasi merupakan proses ekstrasi energi dari molekul makanan yang bergantung pada adanya oksigen. Secara sederhana, reaksi kimia yang terjadi dalam respirasi dapat dituliskan sebagai berikut:
 C6H12O6 + 6O2 → 6 CO2 + 6H2O + ATP
Oksigen atau zat asam adalah adalah unsur kimia dalam sistem tabel periodik yang mempunyai lambang O dan nomor atom 8. Ia merupakan golongan unsur kalkogen dan dapat dengan mudah bereaksi dengan semua unsur lainnya. Pada temperatur standar, dua atom berikatan menjadi dioksigen, yaitu senyawa gas diatomik dengan rumus O2 yang tidak berwarna, tidak berasa, dan tidak berbau.
Laju respirasi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain:
a.       Ketersediaan substrat. Tersedianya substrat pada tanaman merupakan hal yang penting dalam melakukan respirasi. Tumbuhan dengan kandungan substrat yang rendah akan melakukan respirasi dengan laju yang rendah pula. Demikian sebliknya bila substrat yang tersedia cukup banyak maka laju respirasi akan meningkat.Ketersediaan Oksigen. Ketersediaan oksigen akan mempengaruhi laju respirasi, namun besarnya pengaruh tersebut berbeda bagi masing-masing spesies dan bahkan berbeda antara organ pada tumbuhan yang sama. Fluktuasi normal kandungan oksigen di udara tidak banyak mempengaruhi laju respirasi, karena jumlah oksigen yang dibutuhkan tumbuhan untuk berrespirasi jauh lebih rendah dari oksigen yang tersedia di udara.
b.      Suhu. Pengaruh faktor suhu bagi laju respirasi tumbuhan sangat terkait dengan faktor Q10, dimana umumnya laju reaksi respirasi akan meningkat untuk setiap kenaikan suhu sebesar 10oC, namun hal ini tergantung pada masing-masing spesies.Tipe dan umur tumbuhan. Masing-masing spesies tumbuhan memiliki perbedaan metabolsme, dengan demikian kebutuhan tumbuhan untuk berespirasi akan berbeda pada masing-masing spesies. Tumbuhan muda menunjukkan laju respirasi yang lebih tinggi dibanding tumbuhan yang tua. Demikian pula pada organ tumbuhan yang sedang dalam masa pertumbuhan.
Serangga mempunyai alat pernapasan khusus berupa system trachea yang berfungsi untuk mengengkut dan mengedarkan O2 ke seluruh tubuh serta mengangkut dan mengeluarkan CO2 dari tubuh. Trschea memanjang dan bercabang-cabang menjadi saluran hawa halus yang masuk ke seluruh jaringan tubuh oleh karena itu, pengangkutan O2 dan CO2 dalam system ini tidak membutuhkan bantuan sitem transportasi atau darah.
Udara masuk dan keluar melalui stigma, yaitu lubang kecil yang terdapat di kanan-kiri tubuhnya. Selanjutnya dari stigama, udara masuk ke pembuluh trachea yang memanjang dan sebagian ke kantung hawa.
Pada serangga bertubuh besar terjadinya pengeluaran gas sisa pernafasan terjadi karena adanya pengaruh kontraksi otot-otot tubuh yang bergerak secara teratur.
Corong hawa (trakea) adalah alat pernapasan yang dimiliki oleh serangga dan arthropoda lainnya. Pembuluh trakea bermuara pada lubang kecil yang ada di kerangka luar (eksoskeleton) yang disebut spirakel. Spirakel berbentuk pembuluh silindris yang berlapis zat kitin, dan terletak berpasangan pada setiap segmen tubuh. Spirakel mempunyai katup yang dikontrol oleh otot sehingga membuka dan menutupnya spirakel terjadi secara teratur. Pada umumnya spirakel terbuka selama serangga terbang, dan tertutup saat serangga beristirahat.
Oksigen dari luar masuk lewat spirakel. Kemudian udara dari spirakel menuju pembuluh-pembuluh trakea dan selanjutnya pembuluh trakea bercabang lagi menjadi cabang halus yang disebut trakeolus sehingga dapat mencapai seluruh jaringan dan alat tubuh bagian dalam. Trakeolus tidak berlapis kitin, berisi cairan, dan dibentuk oleh sel yang disebut trakeoblas. Pertukaran gas terjadi antara trakeolus dengan sel-sel tubuh. Trakeolus ini mempunyai fungsi yang sama dengan kapiler pada sistem pengangkutan (transportasi) pada vertebrata.
Sistem pernafasan pada serangga mengenal dua sistem, yaitu sistem terbuka dan sistem tertutup. Digunakan alat/organ yang disebut spirakulum (spiracle), juga tabung-tabung trakhea dan trakheola. Tekanan total dari udara sebenarnya merupakan jumlah tekanan gas N2, O2, CO2 dan gas-gas lain. O2 sendiri masuk ke dalam jaringan dengan satu proses tunggal: adanya tekanan udara dalam jaringan. Tekanan O2 dengan demikian harus lebih besar daripada tekanan udara dalam jaringan, sebaliknya tekanan CO2 dalam jaringan harus lebih besar dibanding yang ada di udara.(lihat gambar sel respirasi). Laju diffusi diukur dengan rumus 1/d (sebagai suatu peristiwa diffusi pasif).



BAB III
METODE PENELITIAN

A.  Variabel dengan devinisi operasional variabel (DOV)
1.        Variabel bebas                                          :  Massa serangga
Definisi Operasional Variabel Bebas              : Serangga diambil dengan ukuran yang berbeda. Satu serangga dengan ukuran kecil dan satu serangga dengan ukuran sedang.
2.        Variabel Kontrol                                      : jenis serangga
Definisi Operasional Vaiabel Kontrol : jenis serangga sama-sama jangrik
3.        Variabel Respon                                      :  Laju pernapasan serangga
Definisi Operasional variabel              :  Laju pernapasan serangga/jangkrik dari serangga massa 0,3gr dan 0,6gr
B.  Rancangan Penelitian
Kelompok 1    : Serangga dengan berat tubuh 0,3 gr
Kelompok 2    : Serangga dengan berat tubuh 0,6 gr
C.  Sasaran Penelitian    
Populasi           : Serangga dengan spesies yang sama
Sampel            : -    Serangga dengan berat tubuh 0,3 gr
-          Serangga dengan berat tubuh 0,6 g
-           
D.    Alat dan Bahan

©      Respirometer sederhana
©      Timbangan
©      2 ekor serangga
©      Kristal NaOH /KOH
©      Eosin
©      Vaselin
©      Kapas
©      Pipet

E.     Cara Kerja

1.  Bungkus Kristal KOH dengan kapas, lalu masukkan dalam tabung        respirometer.
2.   Masukkan belalang yang telah ditimbang beratnya ke dalam botol respirometer, tutup dengan pipa berkala.
3.       Oleskan vaselin plastisin pada celah penutup tabung.
4.      Tutup ujung pipa yang berskala dengan jari ± 1 menit, kemudian lepaskan dan masukkan setetes eosin dengan menggunakan pipet.
5.      Amati dan catat perubahan kedudukan eosin pada pipa berskala setiap 2 menit selama10 menit.
6.         Lakukan percobaan yang sama (1-5) dengan menggunakan belalang yang berbeda ukuran.


F.         Subyek  Penelitian
1.         Tempat pelaksanaan    :   Laboratorium Biologi SMA Negeri 2 Pati
2.         Waktu pelaksanaan     :  
            a.Tahap 1         :  Pengambilan data atau eksperimen :26 Februari 2014
            b.Tahap 2        :  Penyusunan laporan :8 Maret 2014



BAB IV
DATA DAN PEMBAHASAN

A.    DATA
4.1  Tabel pengamatan frekuensi pernapasan pada serangga
Jenis Hewan
Berat tubuh hewan(gr)
Skala kedudukan eosin tiap 2 menit
I
II
III
IV
V
Jangkrik
0,3gr
0,22
0,33
0,38
0,45
0,48
Jangkrik
0,6gr
0,13
0,22
0,27
0,31
0,33


4.2 Grafik laju pergerakan freuensi pernapasan serangga





Pertanyaan :
1.      Apakah fungsi KOH/NaOH dalam percobaan?
2.      Apakah fungsi eosin dalam percobaan?
3.      Fakttor apakah yang memengaruhi pergeseran eosin?
4.      Manakah laju pergeseran kedudukan eosin tercepat dari serangga yang anda uji?Mengapa demikian?
Jawab  :
1.      Fungsi dari Kristal KOH/NaOH pada percobaan yaitu sebagai pengikat CO2 agar tekanan dalam respirometer menurun. Jika tidak diikat maka tekanan parsial gas dalam respirometer akan tetap dan eosin tidak bisa bergerak. Akibatnya volume oksigen yang dihirup serangga tidak bisa diukur. Kristal KOH/NaOH dapat mengikat CO2 karena bersifat higroskopis. Reaksi antara KOH dengan CO2, sebagai berikut:
(i) KOH + CO2 → KHCO3
(ii) KHCO3 + KOH → K2CO3 + H2O
2.      Fungsi eosin adalah sebagai indikator oksigen yang dihirup oleh organisme percobaan (jangkrik) pada respirometer. Saat jangkrik menghirup oksigen maka terjadi penurunan tekanan gas dalam respirometer sehingga eosin bergerak masuk ke arah respirometer.
3.      Aktor yang mempengaruhi pergeseran eosin ialah konsumsi oksigen oleh serangga didalam tabung. Eosin bergerak ke arah tabung spesimen ke dalam karena adanya penyusutan volume  udara dalam  tabung tersusut tersebut . Karena oksigen dihirup oleh jangkrik kemudian karbondioksida diserap NaOH. Begitu terus sehingga udara dalam tabung berkurang dan eosin bergerak ke dalam.
4.      Laju pergerakan eosin yang paling cepat ialah jangkrik dengan ukuran tubuh yang kecilyaitu 0,3 gr. Hal ini terjadi karena dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti jenis kelamin serangga, suhu ruangan , dan juga kesehatan atau kebugaran dari serangga besar yang seharusnya frekuensi pernapasannya lebih cepat. Dan kami menduga jika serangga yang lebih kecil frekuensi pernapasannya lebih cepat karena aktivitas yang dilakukan sebelum dimasukkan dalam tabung. Dan juga hal ini bisa terjai kaarena saat kami memasukkan serangga yang besar mungkin ada air dalam respirometer yang menghambat laju respirasi.

B.     PEMBAHASAN
Berdasarkan percobaan yang kami lakukan didapatkan analisis data pengamatan yang berupa kenaikan dan penurunan laju pernafasan pada percobaan.
Pada percobaan pertama yang kami lakukan di 2 menit pertama pada jangkrik yang bertubuh kecil didapatkan perpindahan titik eosin ( tinta) yang menujukkan skala 0,22 ml dengan perlakukan yang sama di menit yang ke-4  menunjukkan skala 0,33 ml yang mana terjadi pertambahan 0,5 ml lalu di menit ke -6 tinta (eosin) bergeser ke 0,38 ml yang mana terjadi pertamabahan sebesar 0,07ml dari 2 menit sebelumnya, kami mengujinya lagi di menit ke 8 yang mana masih terjadi laju perpindahan tinta menunjuk ke skala 0,45 ml yang juga terjadi pertambahan sebanyak 0,03 ml dari skala awal. Untuk pengujian di menit ke 10 kami melihat masih terjadi pergerakan eosin dari skala 0,45ml menuju ke skala 0,48 ml dengan pertambahan skala 0,03 ml.
Pada percobaan ke kedua kami melakukan hal yang sama dengan percobaan yang pertama dengan tempat, bahan dan alat yang sama kami melakukan pengujian tetapi dengan object yang berbeda yaitu jangkrik yang ukurannya lebih besar, pada 2 menit pertama kami melihat skala yang di tunjukkan oleh eosin adalah 0,13 ml pada menit ke 4 kami melihat pergerakan eosin menuju ke skala 0,22 ml yang mana terjadi pertambahan 0,09ml. Pada menit ke -6 kami mengamati lagi dan eosin menunjukkan skala 0,27 ml sehingga terjadi pertambahan 0,05ml pada menit ke-6. Kami mengamati kembali di menit ke-8 eosin menunjukkan skala 0,31ml itu menunjukkan pertambahan sebesar 0,04ml yang kemudian di menit ke 10 kami mengamati eosin menunjukkan skala 0,33ml dan terlihat pertambahan sekitar 0,02 ml.
Maksud dari penggunaan KOH berbentuk kristal  pada percobaan diatas ini adalah sebagai pengikat gas hasil respirasi dari serangga yaitu gas CO2 yang dihembuskan ke ruangan respirometer. Penggunaan eosin atau tinta pada percobaan dapat menunjukkan skala oksigen yang di gunakan pada proses respirasi jangkrik. Yang mana oksigen di dalam repirometer tersebut dapat dihitung dari skala yang ada melalui pergerakannya.  saat eosin bergerak maka dapat diketahui jika jangkrik sedang mulai bernafas atau menghirup O2 bebas yang tersedia di respirometer. Kecepatan pernafasannya per 2 menit dapat dilihat dari pergerakan yang ada pada titik awal skala sampai titik akhir skala . Pada keduanya jangkrik yang besar ataupun yang kecil laju pernafasannya melambat setelah menit ke 6 sampai ke 10 ini diakibatkan oleh kondisi O2 yang semakin lama semakin berkurang di ruang respirometer. Pada jangkrik yang berubuh besar kebutuhan oksigennya lebih banyak dapat dilihat dari data pengamatan skalanya jauh lebih cepat di banding jangkrik yang bertubuh kecil. Disini massa atau berat tubuh jangkrik sangat mempengaruhi. Semakin besar tubuh jangkrik atau organisme maka semakin banyak O2 yang dibuthkan untuk proses respirasi berarti ukuran tubuh berbanding lurus dengan kebutuhan oksigen. 
Dalam percobaan ini, khususnya pada percobaan yang menggunakan respirometer,  digunakan NaOH. Fungsi dari larutan ini adalah untuk mengikat CO2, sehingga pergerakan dari larutan Brodie benar-benar hanya disebabkan oleh konsumsi oksigen.
Setelah itu spesimen dimasukkan ke dalam tabung dan tabung ditutup dengan bagian yang berskala rapat-rapat. Untuk mengetahui penyusutan udara dalam tabung, pada ujung terbuka pipa berskala diberi setetes eosin. Eosin ini akan bergerak ke arah tabung spesimen karena terjadinya penyusutan volum udara dalam ruang tertutup (tabung spesimen) sebagai akibat pernapasan, yaitu O2 diserap, CO2 dihembuskan tetapi lalu diserap oleh NaOH. Kecepatan eosin itu bergerak ke dalam menunjukkan kecepatan pernapasan organisme yang diselidiki.
Perhitungan dilakukan untuk memperoleh angka kecepatan respirasi organisme tertentu dalam ml tiap satuan waktu. Data yang diambil adalah lama pernapasan.  Dalam percobaan ini diambil tiap 2 menit sekali dan jarak yang ditempuh oleh eosin yang bergerak. Pada hitungan kenaikan interval kedua, dicari dengan interval 2 dikurangi interval 1 dan begitu seterusnya untuk mencari kenaikan nilai interval berikutnya.
Keberhasilan percobaan atau eksperimen ini tergantung tergantung pada bocor tidaknya alat atau tidak rapat. Pada percobaan ini, hubungan antara tabung dan bagian berskala diberi vaselin. Tujuan pemberian vaselin  yaitu agar hubungan antara tabung dan bagian bersekala licin serta udara tidak dapat keluar masuk. Pada percobaan ini, perubahan suhu udara menyebabkan titik air yang sudah bergerak ke arah tabung dapat bergerak kembali ke arah luar. Oleh karena itu percobaan ini diadakan dalam waktu perubahan suhu tidak besar. Sebaliknya bila suhu menurun, tetes air cepat bergerak ke arah tabung spesimen.
Sebelum disimpan, spesimen hewan dikembalikan ke tempatnya dan NaOH yang biasanya meleleh segera dikeluarkan dan tabung dicuci bersih. Jika kurang bersih dan tabung tertutup, maka akan terjadi respirometer tak dapat dibuka lagi, karena merekat oleh NaOH.
Faktor- faktor yang mempengaruhi laju respirasi:   
1.    Jenis kelamin
Belalang atau jangkrik  betina dan belalang jantan memiliki kecepatan respirasi yang berbeda.
2.  Ketinggian
       Ketinggian mempengaruhi pernapasan. Makin tinggi daratan, makin rendah O2, sehingga makin sedikit O2 yang dapat dihirup belalang. Sebagai akibatnya belalang pada daerah ketinggian memiliki laju pernapasan yang meningkat, juga kedalaman pernapasan yang meningkat.
3. Ketersediaan Oksigen.
Ketersediaan oksigen akan mempengaruhi laju respirasi, namun besarnya pengaruh tersebut berbeda bagi masing-masing spesies dan bahkan berbeda antara organ pada tumbuhan yang sama. Fluktuasi normal kandungan oksigen di udara tidak banyak mempengaruhi laju respirasi karena jumlah oksigen yang dibutuhkan tumbuhan untuk berespirasi jauh lebih rendah dari oksigen yang tersedia di udara.
4. Suhu.
Serangga mempunyai alat pernapasan khusus berupa system trakea yang berfungsi untuk mengangkut dan mngedarkan O2  ke seluruh tubuh serta mengangkut dan mengeluarkan CO2 dari tubuh. Trachea memanjang dan bercabang-cabang menjadi saluran hawa halus yang masuk ke seluruh jaringan tubuh oleh karena itu, pengangkutan O2 dan CO2 dalam system ini tidak membutuhkan bantuan sitem transportasi atau darah. Udara masuk dan keluar melalui stigma, yaitu lubang kecil yang terdapat di kanan-kiri tubuhnya. Selanjutnya dari stigama, udara masuk ke pembuluh trachea yang memanjang dan sebagian ke kantung hawa. Pada serangga bertubuh besar terjadinya pengeluaran gas sisa pernafasan terjadi karena adanya pengaruh kontraksi otot-otot tubuh yang bergerak secara teratur.
5. Berat Tubuh
Hubungan antara berat dengan penggunaan oksigen berbanding terbalik. Karena setiap makhluk hidup membutuhkan O2 (Oksigen) dalam jumlah yang besar. Melebihi dari Berat tubuh. Pada hasil di atas jelas sekali bahwa ukuran tubuh mempegaruhi laju pernapasan, semakin kecil ukuran dan berat tubuh maka semakin cepat pernapasannya. Walaupun diatas ada sedikit kegagalan yaitu pernapasan pada jangkrik besar tidak sebagaimana mestinya. Karena pada jangkrik yang berukuran besar melakukan aktifitas yang berkemungkinan banyak melakukan pergerakkan,sehingga membutuhkan banyak pernafasan dan oksigen. Ternyata aktifitas yang banyak bergerak dari jangkrik juga memengaruhi laju pernapasan


Banyak sumber menjelaskan semakin besar serangga maka laju frekuensi pernapasan dari serangga itu semakin cepat. Namun ini berbeda dari hasil pengamatan kelompok kami. Justru serangga yang lebih kecil frekuensi pernapasannya lebih cepat. Ini memang bisa terjadi karena aktivitas serangga sebelum di masukkan di tabung. Namun, kami juga menduga ada faktor yang lain seperti :
Adanya air dalam respirometer yang menghambat laju respirasi, saat serangga besar di masukkan dalam tabung
Serangga yang digunakan sudah tidak bugar/ sehat atau serangga diambil sehari sebelum praktikum


BAB V
PENUTUP

Kesimpulan        :

1.      Jankrik bernafas dengan menghirup oksigen dan mengeluarkan karbondioksida.
2.     Fungsi dari KOH dalam percobaan adalah untuk mengikat gas buangan karbondioksida dari pernafasan jangkrik.
3.      Fungsi eosin pada percobaan sebagai petunjuk laju kecepatan pernafasan.
4.      faktor – faktor yang mempengaruhi pernafasan pada jangkrik dan belalang adalah ukuran atau berat badan tubuh jangkrik dan belalang, ketersediaan oksigen yang cukup dalam ruangan (respirometer), suhu ruangan , kondisi kesehatan jangrik . Dan juga adanya air dalam tabung respirometer yang dapat memperlambat laju respirasi


Daftar Pustaka

BUKU BIOLOGI XI
Ø  Aryulina, Diah., Choirul Muslim dan Syalfinaf Manaf.2010.Biology 2B for Senior High School Grade XI Semester 2.Jakarta:Esis.
Ø  Syamsuri, Istamar.,dkk.2007.Biologi untuk SMA Kelas XI Semester 2. Jakarta: Erlangga.
Ø  Reza Fredo Simarmata. Praktikum Respirasi Serangga. (Online). (http://biologipedia.blogspot.com/2012/03/praktikum-respirasi-serangga.html/, diakses pada hari Kamis, 07 Februari 2013, pukul 14.45).
Tagged by: http://andriyaniprasetiyowati.blogspot.com


Lampiran           :

Rabu, 05 Maret 2014

Simple Plan -  Perfect Lyric

Hey dad look at me
Think back and talk to me
Did I grow up according to plan?
Do you think I’m wasting my time doing things I wanna do?
but it hurts when you disapprove all along
And now I try hard to make it
I just want to make you proud
I’m never gonna be good enough for you
I can’t pretend that I’m alright
And you can’t change me
Cuz we lost it all
Nothing lasts forever
I’m sorry
I can’t be perfect
Now it’s just too late and
We can’t go back
I’m sorry
I can’t be perfect
I try not to think
About the pain I feel inside
Did you know you used to be my hero?
All the days you spend with me
Now seem so far away
And it feels like you don’t care anymore
sumber www.rizkyonline.com
And now I try hard to make it
I just want to make you, proud
I’m never gonna be good enough for you
I can’t stand another fight
And nothing’s alright
Cuz we lost it all
Nothing lasts forever
I’m sorry
I can’t be perfect
Now it’s just too late and
We can’t go back
I’m sorry
I can’t be perfect
Nothing’s gonna change the things that you said
Nothing’s gonna make this right again
Please don’t turn your back
I can’t believe it’s hard
Just to talk to you
But you don’t understand
Cuz we lost it all
Nothing lasts forever
I’m sorry
I can’t be perfect
Now it’s just too late and
We can’t go back
I’m sorry
I can’t be perfect
Cuz we lost it all
Nothing lasts forever
I’m sorry
I can’t be perfect
Now it’s just too late and
We can’t go back
I’m sorry
I can’t be perfect

Rabu, 29 Januari 2014

ku lari untuk Indonesia


Ku lari Untuk Indonesia
Ku berjalan mengitari hutan untuk dapat menuntut ilmu. Jembatan yang sudah tua ditambah sungai dengan aliran yang tak bersahabat menambah deretan pengorbananku untuk meraih kesuksesan. Aku Narni, dari desa dipelosok Indonesia. Tak banyak orang tahu daerahku, listrik masih jarang ditambah medan yang sangat mematikan. Dari daerahku , aku harus menempuh jarak sekitar 20 km untuk pergi sekolah . Bayangkan saja, jika naik perahu berapa lama waktu yang harus aku tempuh. Tak hanya perahu tua yang aku tumpangi , aku harus terlebih dahulu berjalan 5 km ke tepian sungai. Menuruni bukit, menyebrangi jembatan hingga harus pula melintasi sungai yang banyak sekali binatang buas . Banyak memang anak di daerahku yang tak sekolah . Mereka hanya memikirkan untuk bekerja. Mereka bekerja membantu orang tua dengan  cara bertani , berladang dan menangkap ikan di sungai. Banyak sekali anak di daerahku yang hanya memikirkan saat   ini saja, bukan masa depan. Seharusnya mereka lebih bisa berpikir jauh untuk masa depannya. Aku ingin sekali mengubah pola pikir mereka, tapi aku rasa itu sulit sekali. Karena didalam pikiran masyarakat kampungku hanya bekerja dan bekerja, bukan sekolah untuk bekerja di masa depan. Aku juga sempat heran mengapa daerahku masih sangat tertinggal. Aku sempat miris melihat kondisi masyarakat dikota sana. Semua bisa mereka lakukan. Sedang kami disini masih sangat tertinggal. Untuk mencari listrik saja sulit apalagi mau menonton televisi, mungkin itu langka sekali. Kita bisa menikmati  tayangan film mungkin dua tahun sekali jika ada layar tancep yang datang ke desaku. Aku sebagai anak Indonesia merasa sedih, mengapa saudaraku di kota bisa melakukan hal –hal yang bisa mengubah hidup mereka, sementara kami yang berada di desa tidak bisa. Di otakku hanya ada keinginan untuk bisa merubah kampung halamanku, tetapi tetap berporos pada ajaran yang sebenarnya. Aku berusaha menuntut ilmu walau jauh disana. Aku  ingin sekali menjadi wakil rakyat nantinya agar bisa menyampaikan aspirasi saudaraku disini. Aku ingin menghapuskan korupsi dari tanah pertiwi dan aku ingin menciptakan Indonesia lebih dari ini. Walau terkadang, aneh untuk    aku lakukan. Untuk menuntut ilmu bagi ku itu sulit, karena apa? Karena untuk sekolah saja sulit ditambah banyak hal lain yang mengikutiku. Indonesia yang selalu aku genggam erat di kepalan tanganku, kini ia sedang meneteskan air mata. Banyak anak buahnya yang masuk dalam lubang hitam. Mereka tak sadar akan pengorbanan para pahlawan Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, setelah mereka besar mereka malah menghancurkannya. Rentetan masalah datang menimpa negeriku. Yang lagi booming ialah tikus yang sedang mengerati harta Indonesia. Seharusnya mereka bisa berfikir, mereka dibesarkan oleh negara dan mereka pula harus membesarkan negara bukan malah menambah masalah. Yang aneh, tikus itu merupakan orang yang berpendidikan tinggi. Aku sempat berpikir untuk apa sekolah tinggi namun akhirnya membuat dosa. Tapi, karena tekadku yang sangat bulat, aku tetap akan menimba ilmu sampai memori otakku penuh dan akan ku bangun negeriku dengan ilmu yang diiringi rasa iman dan taqwa.
Negeri yang sudah lama merdeka ini, aku rasa bisa lebih maju. Negeriku seperti ini , karena mungkin banyak pengawet di samping kanan dan kirinya, yang tentunya seperti korupsi. Aku yang berperawakan kulit sawo matang hidup di pelosok negeri , sangat bangga sebenarnya menjadi warga Indonesia . Walau keadaan yang seperti ini aku tetap bertekad untuk membangun Indonesia nantinya. Cita-citaku yang ingin menjadi anggota DPR kini sudah mulai luntur. Aku lebih ingin menjadi Dosen atau guru. Menurutku inilah pekerjaan yang bisa merubah keadaan Indonesia. Sebab, gurulah yang mengajarkan anak didiknya yang nanti akan memimpin Indonesia. Aku akan berjuang keras untuk menjadi pengajar, karena dari gurulah tumbuh seorang bupati hingga presiden. Dari gurulah sebenarnya negeri itu bisa dibangun. Sebab, ketika anak didik di ajar , guru akan berpesan dan mengajarkan untuk membangun negeri Indonesia.
Aku yang kini hidup pas-pasan memang sulit untuk mewujudkan cita-citaku itu, karena rintangan untuk menimba ilmu cukup mematikan. Dilihat dari medan yang harus ku tempuh sampai aku harus berjuang melawan katuk. Karena apa, ku  harus bangun pukul 4 fajar  , agar aku bisa sampai sekolah tepat waktu. Sementara, setelah sampai disekolah , aku masih harus berjuang kembali, sekolah yang sudah tua, dan fasilitas kurang memadai. Apalagi jika hujan mengguyur, disaat inilah semangatku luntur. Sekolah yang sudah tua, di tambah tetesan air yang masuk ke ruang kelas. Aku merasa malas dan ingin menyalahkan keadaan yang sedang aku alami. Aku juga anak negeri , mengapa anak yang berada di Metropolitan dapat merasakan kenikmatan sekolah sementara aku tidak bisa. Jika saja, aku mendapatkan kesempatan itu, aku pasti bersyukur. Dengan keadaan yang begini saja , aku sudah bersyukur, mengapa kawanku yang disana tidak. Padahal sekolah mereka lebih layak dari ini. Entahlah dimana fikiran mereka yang sesungguhnya. 
Kini aku menginjak bangku SMA, sebab aku merasa geregetan dengan keadaan yang menimpa daerahku. Disekolah aku bersungguh-sungguh , untuk belajar. Keinginan pertamaku untuk daerahku ialah membangun pembangkit listrik dengan tenaga air. Ada sebuah lokasi didaerahku yang bisa dimanfaatkan untuk membangkitkan tenaga listrik. Aku pelajari buku yang diberikan guruku, aku pelajari bagaimana cara membangkitkan listrik menggunakan tenaga air. Hingga suatu ketika, dimana aku sudah mengeti cara membangkitkan lstrik menggunakan bantuan air, aku mulai melakukan kegiatanku itu. Ku kumpulkan alat yang diperlukan, dan aku mengumpulkan saudaraku untuk mulai membangun pembangkit listrik itu. Seharian aku tak berhenti untuk berusaha agar alat yang aku ciptakan bisa berbuah manis. Tapi, setelah aku coba , alat itu tak berjalan dengan baik. Banyak orang yang mencemoohku akan hal ini. Aku sedikit gusar. Tuhan mengapa kau tak ijinkan aku untuk membangun listrik didaerahku, padahal aku sangat membutuhkannya. Karena kecintaanku kepada daerah asalku, walau banyak orang yang mencerca, aku tetap berusaha sendiri membangun pembangkit listrik itu. Ku bekerja sendiri setiap hari , ku bangun pukul 2 pagi , kucoba alatku setiap saat.  Entah apa sesungguhnya rencana Tuhan , sudah berulang kali aku berusaha namun tetap gagal. Hingga aku sempat ingin putus asa. Aku telah menghabiskan sekitar 3 bulan waaktu ku untuk membangun pembangkit listrik namun belum nampak hasilnya. Aku sebenarnya ingin berhenti, tapi, jika aku berhenti , bagaimana nasib desaku seterusnya. Apa akan tetap gelap gulita??? jika seperti ini tak akan maju negaraku, gimana bisa maju. Daerahnya saja, masih sangat tertinggal , untuk menggunaan listrik saja belum bisa. Dan karena ini merupakan salah satu keinginan terbesarku selama ini, dengan rasa yang optimis aku tetap berusaha , membangun pembangkit listrik itu.  Aku butuh waktu hampir 4 bulan untuk menyelesaikan alat pembangkit listrik itu. Aku berusaha sendiri, aku bangun sedikit demi sedikit. Ku kumpulkan tenagaku untuk daerahku. Banyak sekali orang yang mencemoohku karena ulahku yang aneh dimata mereka. Aku juga sempat di larang oleh bapak ibuku. Aku tak boleh keluar , jika aku tetap menjalankan aksiku itu, aku tidak dierbolehkan pergi ke sekolah. Aduhhh harus bagaimanakah aku ini. Tuhan tolong aku , buka kan lah pintu hati bapak dan ibuku agar aku bisa menyelesaikan impianku ini. Tetap saja, ibuku dan bapakku melarang, harus  bagaimana aku ini. Sedikit membangkang , aku tetap berusaha menjalankan aksiku itu dengan diam-diam. Aku keluar tengah malam disaat ibu dan bapak pergi kelaut. Aku sempatkan waktu beberapa menit setelah pulang sekolah untuk pergi ke tepi sungai yang alirannya cukup deras.
            Selang beberapa bulan lamanya, akhirnya dengan ku ucap bismillah aku mulai mengoperasikan alat yang aku susah payah buat itu. Aduhhhh,,, Tuhannn, ini membuatku  senang sekali. Ternyata alat ku ini bisa menghidupkan lampu . Beberapa orang kaget . Dan mereka sangat senang daerahnya bisa mendapatkan listrik juga. Bapak ibuku sontak memberikan jempol tanda bangga padaku. Semua warga bergembira dan mereka berterimakasih kepadaku. Aku merasa puas sekarang. Tapi, mimpiku tidak hanya ini, aku masih punya banyak mimpi untuk Indonesia yang mungkin sulit dilakukan seperti menjadi pengajar untuk generasi pembangun negara yang berbudi baik .
            Tak hanya mimpi itu saja, di otakku ada rentetan mimpi untuk kemajuan Indonesia . Dan khususnya pendidikan Indonesia. Setelah aku berhasil membangkitkan tenaga listrik di daerahku, aku tetap belajar dengan tekun. Karena apa, daerahku belum sepenuhnya terpasang listrik. Karena tenaga yang dihasilkan dari alat itu berskala kecil. Aku yang sebentar lagi akan mengikuti ujian Nasional , pastinya menyiapkan betul materi-materi yang akan diujikan. Aku perlu ekstra belajar agar nilai UN ku sempurna. Sebab, sekolah yang aku tempati, belum bisa memberikan materi untuk UN sepenuhnya. Sekolah yang berada di pinggiran sungai , tanpa diperhatikkan oleh pemerintah. Buku pelajaran tak pernah ada dimeja. Jika ada itu pun pinjaman dari sekolah lain. Untuk UN pun harus menumpang di SMA lain. Butuh waktu 1 jam ke sekolah tersebut. Harus berangkat jam berapakah aku ini Tuhan??? Tuhan berikanlah kemudahan dalam belajarku, karena hanya satu pitaku Tuhan. Jadikanlah aku nantinya pengajar yang baik untuk membangun Indonesia. Lari dari masalah UN. Kepalaku pening lagi. Karena harus kemanakah aku stelah ini? Aku ingin melanjutkan kuliah , namun apa kuat orang tuaku membiayainya. Walau.... banyak disana universitas yang menyediakan bidik misi. Tapi, apa akan diselipkan namauku disana? Aku sendiri pun tak tahu. Entahlah apa akan terwujud keinginanku ini.
UN kini tinggal menghitung jam. Kiranya 1 jam lagi UN pertama akan terlaksana. Gimana dengan nasibku setelah ini? Tuhan aku ingin melanjutkan studyku tapi , adakah jalan untuk ini???Aku hanya berdo’a dan membayangkan jika kelak aku sukses dengan menjadikan ragaku ini pengajar yang baik. Lonceng sontak terdengar. Waduh inilah hari yang menentukkan. Bisakah aku memperoleh nilai sempurna. Ah jangan fikirkan nila dulu , namun ilmu yang selama ini aku peroleh pasti akan muncul dengan sendirinya. Karena sesungguhnya kita sekolah ga nyari nilai namun cari ilmu. Jika kita cari ilmu , nilai akan mengikuti dengan sendirinya. Ya sudahlah berusaha  dulu. Pasti akan terbuka pintu itu. Jantungku sontak berdebar. Akankah aku kuat menjalani ini semua. Tuhan bantulah aku. Karena Kaulah aku lakukan ini. Jangkahan kaki ini aku iramakan didalam hati. Bismillah, bismillah . Aku selipkan irama keagamaan dalam jangkahku menuju ruang ujian. Kududuk dengan tegap tanpa ada beban didalamnya. Tenang, semua akan berjalan dengan baik. Dua jam waktuku mengerjakan soal itu. Aku optimis aku akan berhasil. Itu pun aku benar 2 jam pertama aku lalui dengan baik. Alhamdulillah. Hari kedua dan hari-hari berikutnya aku lakukan pula . Ujian Nasional yang  aku lakukan ini , aku rasa sukses. Tapi , entahlah nilai yang akan keluar nantinya. Pengumuman kelulusan akan diberitahukan sekitar satu bulan lamanya. Aku tidak sabar, aku ingin tahu nasibku sekarang dan didetik ini juga. Tapi, aku lagi-lagi harus bersabar. Disela-sela menunggu pengumuman , aku tetap belajar dan belajar . Karena bagiku, aku ingin tetap ilmu yang ada di otakku abadi dan tidak akan luntur. Oleh karenanya, aku tetap harus melumasinya.
Dua minggu setelah UN aku memberanikan diri untuk pergi ke kota. Dengan bekal minim aku berangkat ke kota menumpang mobil sayuran. Bapak dan ibuku bingung dengan aksiku kali ini. Karena alasanku ke kota ialah ingin cari ilmu. Sebenarnya aku ingin ke kota untuk mencari pekerjaan. Dan jika aku mendapatkan kerja pasti aku bisa membiayai sekolahku nantinya. Tapi, aku harus kerja apa? Aku tidak punya keahlian sama sekali . Hingga saat aku di kota aku menjumpai tempat yang asing bagiku, yaitu sanggar lukis. Aku binggung disitu. Banyak coretan tinta yang tidak teratur. Namun, itu seni . Ya itulah seni. Ku lihat seisi sanggar itu. Hingga aku ditanya seseorang pak tua disana. Ditanyanya keadaan dan maksudku datang ke tempatnya. Jawab apa aku kali ini.
            “Mau cari ilmu pak , buat bekal masa depan.” Spontan jawabku.
            “Kalau mau cari ilmu disini itu kamu harus menunjukkan keahlian yang kamu miliki, dengan begitu kamu akan diterima di sanggar seni ini.”
            “Jika saya memiliki keahlian yang mumpuni, saya tidak akan meminta Bapak untuk menerima saya di sanggar ini. Oleh karena itu izinkanlah saya untuk menimba ilmu disini Pak.”
            Dengan menganggukkan kepala Pak Tua itu berkata, “Emm... Baiklah. Saya lihat kamu ini anak yang memiliki prinsip yang teguh, untuk itu kamu saya beri kesempatan untuk menimba ilmu di sanggar ini, namun apabila kamu tidak dapat menunjukkan kesungguhanmu dalam belajar disini, saya sendiri yang akan mendepak kamu dari sanggar saya, kamu mengerti.”
            “Ya Pak, saya akan menjaga kepercayaan dan kesempatan yang telah Bapak berikan kepada saya.”
             Kata itulah yang diucapkan Pak Tua yang kemudian ku ketahui namanya Pak Narno ketika untuk pertama kali ia bertemu denganku.
            “Saya rasa untuk belajar disini cukup banyak mengeluarkan uang pak. Saya tak mampu itu. Untuk pergi kesini saja saya numpang, saya juga tidak tahu gimana hidup saya seterusnya dengan kepingan uang logam ini. “Yang saya butuhkan tidak uang, kemauanlah yang sebenarnya mendorong ke arah kemajuan. Dan juga niat kamu itu sangat mulia sekali. Buat apa banyak uang namun niatnya tidak dapat tersampaikan”kata pak tua. Dari kata pak Tua itu aku mulai mengerti , jika pemilik sanggar itu lebih menghargai orang yang menghormati ilmu dari pada uang. “jika bapak bertanya, akankah kau menjawabnya nak?”sahut pak tua pemilik sanggar. “Jika pertanyaan itu ada muaranya pasti ada hulunya, tentu saja saya jawab pak.”Jawabku  kala itu. Tak disangka sebelumnya , aku dtawari oleh pak tua itu untuk masuk sanggar lukis tanpa dipungut biaya. Sekejab   darahku seperti berhenti. “Apa mungkin pak, raga sekecil ini, dengan ditambah tak ada kemampuan yang bisa untuk dikembangkan masuk ke sanggar ini?”tanyaku dengan sedikit membangkang. “Tak ada yang salah, saya tahu kemampuanmu nak, tak satu , dua hari saya berkecimpung didunia lukis”. “Tapi, harus kemanakah saya menemukan kemampuanku itu” tanyaku pada pak tua. “Sebenarnya janganlah kau mencari cahaya kemana-mana, cahaya itu ada didirimu sendiri. Namun, cahaya itu perlu diolah lebih lagi” jawab  pak tua dengan memaksaku untuk masuk ke dalam sanggar. Didalam sanggar nampak anak-anak yang melakukan berbagai aktivitas. Ada yang mencoret-coret di kanvas, ada pula yang mencoret-coret dinding. “Eh, anda ini tak tahu diuntung”kataku pada salah seorang anak yang mencoret-coret tembok. “Maaf apa maksud anda? Ini memang kegiatan saya, Apa ada masalah dengan anda? Terus anda siapa?” jawab salah seorang dari sudut sanggar. “Saya yang hidup dikampung ingin sekali mencari ilmu dikota, disini lengkap. Nggak seperti di daerahku, anda seharusnya bersyukur , bukan membuat onar dengan mencoret-coret tembok seperti ini” sahut ku dengan sedikit kesal. Tanpa kusangaja, pak tua datang dan menepuk pundakku. “ Nak, mereka bukan bikin onar, inilah seni. Memang di sanggar ini ada beberapa kelas, dan ini salah satunya. Mereka ini punya potensi dalam bidang lukis , bukan bikin onar” kata pak   tua menjelaskannya padaku. “Iya, mba inilah seni, seni itu tidak ada batasannya, jadi kita bisa menerapkannya dimanapun, akan tetapi tetap saja yang kita lukiskan harus tetap beretika” sahut salah satu siswa dari ujung ruangan sanggar. “Iya mas , maklumlah saya dari pelosok. Saya tak tahu tentang ini semua. Yang saya tahu hanya sungai , ladang dan sawah, itupun hanya didaerah saya” sahut ku dengan rasa malu karena aku telah membentak anak-anak yang mencoret-coret tembok. “ Kalau boleh tahu siapa nama mba?” tanya salah seorang murid. “Nama ku Narni” jawabku dengan nada sedikit gugup. Tak tahu mengapa, baru kali ini aku lihat pria semanis ini, jika dilihat kalau tampan ga juga, tapi ia manis sihh, dikampungku ga ada pria semanis ini . “Mba,,, halooo, kok diam???Kenapa ???Owalah ,,, ,,,, kamu kagum ya sama saya? Sampai-sampai lirikkan mata mba gitu.Biasa kali mba. Aku Ditto. Senang bertemu denganmu Narni” Kata salah seorang siswa sanggar yang ternyata bernama Ditto. Tak kusangka, ternyata sampai segitunya aku kagum dengan Ditto. Sampai-sampai aku melamun sendiri , jadi malu aku. Haduh ini ya anak kampung yang liat pria kota. “E..em nda papa, Dit. Ya baru kali ini aku liat pria semanis kamu , dikampungku ga ada. Disana pria – prianya biasa , kulit hitam, pendek dan hidung pesek. Beda sama kamu, udah manis, tinggi, putih dan kalau aku liat kamu ga bosen dah” sahutku tanpa disadari kat-kataku itu ditertawakan seisi sanggar. Aku seperti orang yang ga pernah liat lawan jenis, ya memang itulah kenyataannya. Pak tua pemilik sanggar itu ternyata bernama pak Karto. Pak Karto pun mengajakku bertemu dengan keluarganya. Dan disuruhnya ku untuk ganti pakean, karena dari kampung aku ga bawa apa-apa. “Begini ya rasanya hidup di kota, beda 180o dari kampungku. Banyak kendaraan , alat teknologi semua lengkap. Tapi ada yang saya sayangkan” ungkapku sembari duduk diteras rumah pak Karto. “Maksudmu apa nak. Apa yang sebenarnya kau sayangkan?” tanya bu Edah istri pak Karto . “Banyak polusi bu, sehingga udaranya ga bisa segar  seperti di kampung, ya itulah kelemahan dari kota yang banyak perusahaan besar” jawabku dengan menyantap makanan yang ada di meja. Aku pun menyantap makanan yang diberikan oleh bu Edah. Banyak sekali makanan disana mulai dari jajanan yang dibeli dari jalanan hingga makanan mahal , ada semua disini. Aku baru kali ini merasakan makanan senak dan senikmat ini. Buku tak pernah membeli makanan seperti ini, untuk beli makanan sederhana saja sulit apalagi makanan semewah ini. Beruntung sekali aku bertemu dengan pak Karto. Selain beliau memintaku unutk masuk ke sanggar lukisnya. Beliau juga baik. Masih ada juga  orang yang baik seperti pak Karto. Setelah ku menyantap makanan yang disediakan oleh bu Edah, ku lanjutkan untuk mengenal tentang seni lukis. Pak Karto menerangkan sedikit demi sedikit mengenai seni lukis.
“Nak sebenarnya melukis merupakan hal yang sangat asyik,apa kau tertarik?”tanya pak .Karto pada ku .
“entahlah pak, apa diri ini mampu untuk melakukannya.Sebab tak ada sedikit bayangan dari ragaku ini untuk bisa menjadi seorang pelukis.” Jawabku.
“Tidak semua orang yang belajar melukis harus jadi peukis, apa seorang murid yang belajar elektro harus menjadi perakit listrik?Tidak kan?Negitu pula dengan lukis. Apa salahnya kau mncoba. Bapak yakin jika kau bersunguh- sungguh pasti Tuhan akan menjadikan ini sebuah jalan” sahut pak Karto sambil sedikit membujuk.
“Sebenarnya, semenjak bapak menawariku untuk masuk sanggar ini , jujur aku tertarik. Namun aku ga punya potensi disini. Aku tak suka luks yang aku suka mengarang atau belajar ilmu alam seperti biologi ataupun fisika.” Kataku pada pak Karto.
“aak lihat kamu ada potensi, nak. Untuk apa bapak menawarimu jika bapak tak meihat potensi itu di dalam dirimu. Potensi mu sudah terlihat jelas nak. Kamu bilang kamu suka mengarang. Dan engarang butuh imajinasi, begitu pula dengan melukis. Bagi seorang pelukis imajinasi ialah kunci. Jika kunci itu cocok maka pintu terbuka. Jangan kuatir Narni , bapak akan melatihmu.” Sahut pak Karto sambil menenangkanku.
Kemudian pak Karto   mengajakku pergi ke sanggar disana aku dilatihnya untuk melukis. Dari mulai dasar, pak Karto menagajariku untuk melukis. Yang menjadi aku teringat oleh bapak dan ibu di kampung , pak Karto mengajariku untuk melukis pemandangan alam. Dilukisan itu ada sungai , kebau , padi hingga kincir yang ada di tepi sungai. Tuhan aku rindu ibu dan bapak, padahal baru 3 hari aku meninggalkan mereka. Aku rindu ia Tuhan, apa aku harus pulang? Namun, jikalau ku ditanya oleh warga kampung harus jawab apa aku nanti. Aku belum dapat ilmu apapun dari kota. Ahhhhhh.... tidak aku tidak boleh rapuh karena rindu akan bapak dan ibuku. Mungkin aku harus mendo’akan beliau agar aku bisa tenang disini. Mungkin bapk dan ibu juga rindu kepadaku. Tuhan lindungilah mereka, aku sungguh menyayanginya. Jangalah mereka selama aku tak bisa menjaganya. Berilah kesehatan jasmani dan rohani agar beliau dapat beribadah kepadamu. Dan berilah aku kekuatan supaya aku tetap bisa beribadah kepadamu dan tentunya masih bisa menerima ilmu darimu.
            Hari kedua ku di sanggar pak Karto ku lewati dengan semangat yang membara. Karena hari ini Ditto akan membantu ku untuk belajar melukis. Tak tahu mengapa aku semangat jika aku ingin bertemu dengan Ditto. Rasanya darahku seakan membeku ditambah nadi ku seakan tak berdenyut. Apa aku ini suka sama dia. Ahhh tida mungkinlah anak kampung sepertiku tak boleh jatuh cinta. Aku ga boleh jatuh cinta selama ilmuku masih seperti rumput yang baru saja tumbuh. Yang sebenarnya bisa membuat kita hidupialah ilmu, jadi aku harus mengejarnya tanpa menyerah. Aku pasti bisa. Aku disini bukan untuk menuntut cinta namun menuntut ilmu.
            Lama sekali Ditto tak muncul . Mungkin dia baru jalan dari rumahnya. Sembari menunggu Ditto aku mulai mencoret-coret tinta dikanvas. Ku coret sana sini. Menurutku ini tak ada iramanya. Ku goreskan tinta engan bantuan kuas. Coret sana coret sini. Aku melukis seorang wanita yang duduk di tepi sungai dengan ditemani oleh selembar kertas dan ku tambah beberapa burung disampingnya. Tak tahumengapa aku melukis seperti ini. Entahlah , tapi aku berimajinas pada saat itu. Aku rasa gambar ini melukiskan keinginan terbesarku. Wanita yang duduk ditepi itu adalah aku, dan aku gambarkan diriku duduk karena aku ingin membayangkan jikalau ku nanti menjadi seorang pengajar dan membangun Indonesia yang bersih dengan  ku menjadi pengajar pasti akan ada sedikit perubahan. Dan ku gambarkan selembar kertas ini merupakan simbol jika kita belajar harus tetap mempertahankan prinsip kita sendiri dan ilmu itu bisa di cari walau hanya dengan selembar kertas karena sebenarnya ilmu tak hanya  dalam bentuk tulisan. Dan disampingnya ku berikan burung karena burung merupakan simbol dari dalam diri manusia yang memilki keinginan untuk mempertahankan hidupnya . Jika dia memiliki keinginan itu maka ia akan melakukan sesuatu untuk melakukan perubahan agar hidupnya berubah menjadi lebih baik . Ku pandangi hasil lukisanku. Jelek aku rasa entahlah ini yang mampu aku lakukan . Biar pak karto yang menilainya. Tak terasa hampir satu setengah jam aku habiskan untuk melukis semabri menunggu Ditto. Aku rasa Ditto tak datang, apalagi cuaca mendung dan hujan mulai turun.
            “Assalamualaikum Narni . Lama ya nunggu ya. Maaf aku tadi nganter mama ke pasar.Ya biasalah mama dua kali seminggu pergi ke pasar. Maaf ya” kata Ditto yang tiba-tiba datang menghampiriku.
            “OOO,, Ditto Walaikumsalam. Tak kira kau tak datang. Lihat langitnya menangis dan mendung disana sini. OOO ga papa , itu memang kewajiban seorang anaknya untuk mebantu orang tuanya. Untuk apa aku marah?” jawabku dengan nada ringan.
            “OOO syukurlah ternyata kamu ga marah. Ooo apa itu? Bagus sekali . Itu lukisanmu? Spektakuler!!! Bagus sekali Narni benar pak Karto kamu memang mempunyai potensi di bidang lukis. Apa maksud lukisan itu? Apa aku boleh mengetahui makna dibalik lukisan indahm itu?” kata Ditto yang ternyata Ditto mengagumi lukisanku.
            “ Iya, itu lukisan yang aku buat sembari menunggumu. Ahhh lukisan itu tidak ada apa-apanya dibanding lukisanmu. Itu tak ada nilai jualnya. Dari mana kamu bisa tahu , kalau itu menyimpan makna tersembunyi?” tanya ku pada Ditto yang ternyata Ditto penasaran dengan lukisanku.
            “ Aku telah lama berkecimpung didunia lukis. Pasti setia kita menggoreskan tinta pasti ada makna yang tersirat. Ya jika memang kamu tak ingin itu . Tak apalah. Kita bahas yang lan saja, padahal menurutku makna itu baik untuk dlakuakan dan diamalkan” kata Ditto kesal karena aku tak mau ungkapkan makna yang terkandung dalam lukisan yang bau sajaaku buat.
     “Ohhh maaft Ditt , okelah aku akan menjelaskan mana itu kepadamu. Aku rasa gambar ini melukiskan keinginan terbesarku. Wanita yang duduk ditepi itu adalah aku, dan aku gambarkan diriku duduk karena aku ingin membayangkan jikalau ku nanti menjadi seorang pengajar dan membangun Indonesia yang bersih dengan  ku menjadi pengajar pasti akan ada sedikit perubahan. Dan ku gambarkan selembar kertas ini merupakan simbol jika kita belajar harus tetap mempertahankan prinsip kita sendiri dan ilmu itu bisa di cari walau hanya dengan selembar kertas karena sebenarnya ilmu tak hanya  dalam bentuk tulisan. Dan disampingnya ku berikan burung karena burung merupakan simbol dari dalam diri manusia yang memilki keinginan untuk mempertahankan hidupnya . Jika dia memiliki keinginan itu maka ia akan melakukan sesuatu untuk melakukan perubahan agar hidupnya berubah menjadi lebih baik .” itu jawabku pada Ditto.
            “Apa ada hal menarik dari lukisan jelek ku ini? Aku rasa ak ada, malah mungkin jika pak Karto melihatnya pasti ia akan menertawakanku.” Kataku sedikit kesal denagn Ditto.
            “ Kamu luar biasa , tak ada pelukis yang berimajinasi tinggi. Aku kagum denagn mu sebab , mungkin jika di presentasekan di bumi ini 1 % manusia yang menghargai ilmu. Aku salut denagn dirimu Narni. Aku hanya bisa berkata, manfaatkan usia mu yang masih muda dengan menghiasinya dengan ilmu yang membuat dirimu bermanfaat bagi orang lain.” Kata Ditto yang menasehatiku.
            Tuhan , rasanya aku tentram sekali saat itu. Apalagi Ditto memberikan ku nasehat seperti itu. Ini meruakan tantangan hidup menurutku. Aduh aku merasakan ada hal aneh didalam benakku. Tuhan mengapa kau pertemukanku dengan Ditto. Jujur aku takt. Takut jikalau aku suka sama dia. Sementara dia tak suka sama aku. Tidak. Aku tidak boleh punya pikiran sekotor itu. Aku harus tetap berpegang teguh akan prinsipku. Aku pergi ke kota untuk mencari ilmu bukan mencri cinta . Aku tak mau mengorbankan ilmuku untuk cinta. Tuhan berilah aku kekuatan agar aku tetap bisa mencari ilmu untuk masa depanku.Ini segelintir do’a yang aku panjatkan kepada Tuhan . dengan harapan Tuhan mengabulkanya dan aku akan meperoleh ilmu untuk mengubah masa depanku dan juga tanah pertiwiku. Di sela lamunanku, pak Karto membawa selembar kertas datang kearah ku dan ditto. Ternyata itu merupakan pengumuman mengenai lombalukis nasional. Apa sebenarnya maksud pak Karto kali ini. Aku rasa pak karto orang yang aneh. Beliau takbisa di tebak. Kadang begini dan juga kadang seperti ini. Biarlah yang penting aku bisa menyerap ilmu darinya.
            “ Nak formulir pendaftaran lomba lukis nasional. Bapak mendapatkan ini dari teman bapak. Bapak berharap kalian berdua bisa mengirimkan hasil lukisan kalian. Bapak yakin diantara kalian akan menjadi peenangnya.” Kata pak Karto sambil menyerahkan formulir ke tangan Ditto.
            “Iya, pak . Ditto pasti mampu mengikuti lomba tu. Pasti dia menjadi pemenangnya. Lukisannya saja sudah spektakuler, ga ada tandingannya dah pak. Pasti ditto bersedia, dia kan calon pelukis terkenal , pak” kataku kepada pak Karto denagn nada yang bersemangat. Walau sebenarnya dihatiku aku ingin mengikutinya. Tapi, jangan mimilah, melukis saja tak bisa , mau ikut lomba lukis. Apalagi tingkat nasional.
            “kalian berdua harus ikut!” sahut pak Karto yang mengkagetkanku sampai-sampai kertas yang ada ditanganku terbang.
            “ Betul itu, kalau au ikut kamu juga harus ikut. Imajinasimu akan menganarkanmu menjai pengajar yang baik” sahut Ditto.
            “A...aku,,uuu maksud pak Karto?”tanyaku sedikit kaku
            “Iya, kalian berdua. Ditto dan kamu , Narni bapak telah daftarkan ke pantia lomba lukis nasional. Narni, bapak memberikan kesempatan langka ini kepadamu, tolong manfaatkannya nak. Bapak yakin jika kau bersungguh-sungguh kemenangan tak akan jauh darimu. Narni, asal kamu tahu jika nanti kau dapat memenangkan lomba ini, kamu akan memperoleh uang nak. Dan dari uan itulah kamu bisa meneruskan pendidikanmu nantinya. Dan dari pendidikanmu itulah kamu bisa menjadi pengajar yang baik. Dari seorang pengajar yang baik lah indonesia bisa maju. Bukankah itu keinginan terbesarmu, Narni. Lakuka ini nak !” kata pak Karto dengan wajah meyakinan ku..
            “Baik pak, Narni akan lakukan ini untuk pak Karto” sahut ku kemudian.
            “Jangan kau lakukan ini demi bapak, nak. Lakukan demi Indonesia.” Jawab pak karto dengan bijak.
            Kemudian pak karto meninggalkanku dengan Ditto di ruangan itu. Didalam ruangan itu diperdengarkanlah oleh Ditto akan lagu anak muda zaman sekarang. Baru kali ini aku mendengarkannya. Memang di kampungku tak ada radio, televisi apalagi mp3. Aku saja baru tahu itu setelah Ditto memperkenalkannya kepadaku. Di waktu yang sama , Ditto mengajari aku bagaimana memegang kuas yang baik dan benar. Tak hanya itu ia juga mengajarkanku tentang seluk beluk melukis di atas kanvas. Ini memang pengalaman yang mengesankan dihidupku. Namun, kenapa lagi-lagi rasa yang dulu pernah datang kini datang lagi. Ak sepertinya suka sama Ditto. Ahhhh ga ga boleh , aku harus fokus untuk mengikuti lomba lukis itu.
            Sudah hampir dua belas hari aku tinggal di sanggar pak Karto. Saatnya aku pulang ke kampung halaman sebelum aku mengikuti lomba lukis itu yang sekiranya akan dilaksanakan sekitar satu bulan lagi. Aku juga harus mengambil hasil UN ku yang akan segera di umumkan. Ku samapaikan rasa terimakasih kepada pak Karto. Aku pun lantas berpamitan kepadanya. Tapi, rasanya ada yang menganjal. Aku tak lihat Ditto. Kemana dia ? Tak namapak batang hidungnya. Aku ingin sekali bertemu dengan nya sebelumak pulang ke kampung. Kan aku nanti tak ketemu dia satu bulan. Ya memang inilah yang harus terjadi. Aku serahkan kepada Tuhan . Ahhh pikiran apaan ini , aku tak boleh memfikirkan tentang cowok , aku tetap harus berpedoman pada prinsipku , aku harus menjadi pengajar yang baik untuk membangun Indonesia. Kemudian aku lanjutkan perjalanku ke kampung halamanku. Kali ini aku pulang ke kampung membawa sedikit bekal untuk bapak dan ibu. Bu Edah memberikan sedikit oleh-oleh untuk bapak dan Ibu. Aku dantar pak Karto ke terminal bus, dengan menggunakan motor tuanya. Kira-kira 22 jam ku tempuh untuk bisa samapi ke kampungku. Ibu dan bapak tak tahu jika aku akan pulang kali ini. Pasti meeka senang akan kehadiranku , apalagi aku sudah lama meninggalkan rumah. Aku rindu mereka.
                        Perjalanan yang lama membuat aku letih. Ku panggul tas dari rumah pak Karto ke halaman rumahku. Nampaknya bapak dan ibu pergi melaut. Sepi sekali rumah ku. Aku binggung , kenapa dirumahku sepi. Aku rindu bapak , ib , tapi kemana mereka sekarang. Padahal ketikaaku di bus , aku membayangkan jika aku tiba di rumah nanti akan ku peluk ibu dan bapak sekuat mungkin, untuk mengobati rasa rinduku. Tapi, itu semua hangus , bapak dan ibu pergi entah ke mana muaranya.
            “Narni.....Nar....Narni”sahut seseorang yang ternyata bapak dengan langkah tergesa-gesa.
            “Bapak... bapak Narni pulang, Narni kangen baak dan Ibu.”jawabku.
            “Kapan kamu datang nak, ayo istirahat , nampaknya tubuhmu letih” kata bapak sedikit merangkul tubuhku.
            “Kemarin , pak. Pak ibu mana?Apa ibu tak ada dirumah pak?” tanyaku ke pada bapak .                 “Ibu mu pergi , nak.”  Jawab bapak denagn sedikit terbata-bata.
            “Oo ibu melaut ?”
            “Tidak!Tid...tidak” sahut bapak sambil eneteskan air mata.
            “Ke rumah tetangga atau mungkin kesungai , pak?” tanay ku heran melihat bapak yang menangmis yang tanpa ku saddari sebelumnya.
            “ Ibumu ,,, Nak, sebelum ibumu berpean, agar bapak menjaga kamu.Ibumu telah pergi ke Rahmatullah” kata bapak yang menahan air matanya karena tak ingin melihat nani menangis.
            “Maksud bapak? Ibu meninggal?Tak mungkin pak. Ehmmehhh bapak bercanda” kataku yang tak percaya begitu saja.
            “Ibumu jatuh dari tebing saat akan mengambil daun, karena bapak tak punya uang bapak diamkan ibumu dirumah, dan karena luka yang di derita cukup parah, dua hari setelah ibu mu jatuh , ibu meninggal”kata bapak.
            “ I,,,i,,,b.buuu , apa yang membat ibu ergi begitu saja. Kenapa ibu tak menunggu ak bu. Narni sudah dapat ilmu bu, Narni akan mengikuti lomba lukis dan Narni akan memenangkannya untuk Ibu” jawabku dengan suara lirih sembari mengeluarkan air mata.
            “Nak, jangan tangisi , memang ini jalan yang harus ibumu tempuh. Tolong jaga amanah ibumu” ata bapak sambil menenangkan ku.
            “ Aku berjanji kepada ibu , aku akan menjadi pengajar yang baik untuk membawa Indonesia menjad lebih baik lagi” janjiku pada Ibu yang benar-benar aku ucapkan dengan hati tulus dan ikhlas.
                        Di dalam kalutnya hati karena kehilangan ibu, aku masih teringat kata-kata Ditto.Aku harus  manfaatkan usia ku yang masih muda dengan  menghiasinya dengan ilmu yang membuat diriku bermanfaat bagi orang lain . Mengapaerasa rapuh seperti ini, Disamping aku teringat oleh kenangan bersama ibu, aku juga teringat akan sosok Ditto. Ahhhh tidak , aku harus fokus , aku ini calon pendiri Indonesia yang lebh baik. Walau aku dirundung sepi , aku tetap berlatih untuk mengikti lomba lukis itu. Kini aku ada semangat lebih karena , amanah ibuku. Aku akan dan harus melaksanakan amanah itu. Saat pengambilan hasil UN un tiba. Jantungku dag dig dug derrrr , akan ku dapat berapakah nilai UN. Semoga baik diantara yang terbaik. Yang artinya aku harus menjadi orang terbaik dalam UN kali ini. Bapak yang mengambil hasilnya pun ikut deg degan . Keluar lah bapak dari ruang kelas. Dipeluknya diriku erat-erat. Bapak meneteskan air mata. Apa aku tak lulus/ Sehingga bapak meneteskan air mata.
            “Selamat , kamu menjadi terbaik dari yang erbaik”kata bapak yang senang melihat hasil yang aku peroleh.
            “Alhamdulillah, ini merupakan awal perjuanagan pak, aku akan berusaha untuk memperoleh hadiah dalam lomba lukis itu, kemudian akan kugunakan uangnya untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, yang akan menjembatani ragaku menjadi pengajar untuk generasi penerus Indonesia” janjiku yang disaksikkan oleh bapak.
Hari untuk persiapan lomba lukis tinggal mengjitung hari. Aku memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin. Ku lukiskan benda-benda disekitar ku. Aku mencari banyak inspirasi disini.Ku datang ke sanggar pak Karto sehari sebelum lomba. Ku berharap akan bertemu ditto disini. Namun, nampaknya a belum datang. Biarlah dia pasti datang dengan sendirinya. Namun, setelah aku berlatih hampir dua jam lamanya , orang yang ku tunggu tak kunjung datang. Mungkin ia persiapan sendiri di rumahnya. Aku di latih  oleh pak Karto, diajarkan ku trik- trik untuk melukis denagn hati, agar hasilnya memuaskan. Ku goreskan tinta dari tepi kanvas satu ke kanvas yang lain.  Kuasakan nada lukisanku, di setiap goresan tinta ku selipkan do’a untuk ibu dan kemajuan Indonesia.
            Hari dimana perlombaan digelar. Aku lagi-lagi tak melihat Ditto. Jujur aku rindu kepadanya. Ternyata kata pak karto, Ditto datang bersama ayah dan mamanya. Jadi ia tak bisa bersamaku dan pak Karto. Lonceng tanda dimulainya lomba telah berbunyi. Nadanya mengletarkan jantungku itu pula yang menambah semangatku berkobar. Tema lukisan ny kali ini ialah cita dan cinta. Mulai ku lukis kan beberapa gamba di dalamnya. Kali ini aku melukiskan bendera Indonesia yyang terbang diiringi 2 ekor burung dan disamping kanan kirinya ku letakkan beberapa pemandangan kampungku yang masih ada di bayangku. Maksud dari lukiskanku kali ini engambarkan cita-cita ku yang ingi menjadikan Indonesia lebih dari ini dengan disimbolkan bendera Indonesia yang erbang tak henti tanpa ada hambatan. Dan ku letakkan dua buruk yang terbang ialah menggambakan keinginanku untuk memiliki pendaming yang bisa menerima ku apa adanya. Itulah arti yang tersirat dari lukisanku. Pengumuman lomba itu akan segera di umumkan. Juara ke tiga memperoleh hadiah sebesar 150 juta rupiah, jaura dua memperoleh 250 juta rupiah. Dan juara pertama ialah 500 juta rupiah. Fantastic! Aku harus merebut salah satu juara itu. Tapi, menurutku itu sulit, karena juri nya saja ddari Amsterdam . pasti seleranya tinggi. Ya berdo’a saja. Setelah menunggu lama pengumuman pun dilaksanakan. Tuhan inilah hidup , aku endapatkan jauara satu. Dan aku memperoleh uang 500 juta rupiah. Aku senang bukan karena uang nya, namun karena aku akan tetap bisa meneruskan pendidikanku dengan  kemenangan ini.Aku peluk pak Karto dan Bu Edah. Tak ku bayangkan anak kampung bisa memperoleh kemenangan seperti ini. Tiba-tiba salah seorang juri dari Amsterdam menemuiku. Karena ia ak bisa berbicara bahasa Indonsia didampingilah ia dengan salah sat panitia.  Tak kuduga juri itu ternyata  mengajak ku untuk pergi ke Amsterdam dan melanjutkan kuliah disana. Ini mimpi? Fikirku saat itu. Ingin ku lompat ke sana ke mari karena kebahagiaanku. Tanpa fikir lama , aku iyakan tawaran juri itu. Aku senang sekali.
                        Dalam suasana yang membahagiakan datang Ditto denagn membawa bunga ditangannya. Aku binggung mengapa ia menyodorka bunga itu kepadaku. Ahhh biarlah.
            “ Nar, au mau ngomong sesuatu. Aku mohon kamu jangan pergi ke Belanda, aku suka sama kamu” kata Ditto sambil memberikan bunganya ke tangan mungilku.
            “Aku juga mungkin suka, tapi, aku ga tahu apa aku benar –benar suka apa hanya sekedar kagum semata.” Jawabku.
            “ Aku tahu kamu ada erasaa denganku. Maka dari itu, jangan kau lanjutkan studymu ke Belanda.”kata Ditto seikit memaksa.
            “Tidak!!! Kamu ga bisa melarang ku , apa-apaan ini dulu kau pernah bilang denganku manfaatkan usia mu yang masih muda dengan menghiasinya dengan ilmu yang membuat dirimu bermanfaat bagi orang lain. Mengapa kamu termakan oleh lidamu sendiri. Ditti walaupun aku suka dan sayang kepadamu , tak akan ku lorbankan pendidikanku demi kamu. Tetap aku akan prgi ke Amsterdam dan akan ku bangun negeriku. Aku aan berlari Ditto walau telapk ini terluka. Aku rela , aku akan korbankan nyawa ini untuk negeriku, maaf Ditto. Jika Ka milikku pasti ada jalan untuk kesana. Selamat tinggal Ditto. Maaf aku lebih memilih ilmu dari pada cintaku.” Jawabku didepan Dito sambil menahan air mata, karena sebenarnya aku berat untuk mengungkapkannya.
                        Kemudian ku berlari menajuhi Ditto. Dari kejauhan nampak rauh Ditto yang kecewa akan sikapku ini. Tapi, biarlah aku akan tetap lakukan ini. Dari tempat lomba itu , kemudian aku pulang ke kampung untuk mengambil barang yang akan ku bawa ke Belanda. Aku berniat sekali mencari ilmu ke sana. Karena janjiku ke pada ibuku. Setelah selesai pergi ddari makam bu, aku dianatar bapak ekota. Ku cium kening dan pipi bapak disana. Tak lupa kku ucapkan banyak terimakash kepadda pak Karto. Karena beliaulah aku bisa seperti ini. Setelah ku sampaikan salam perpisahan, aku terbang menggunakan pesawat ke Belanda. Aku jujur akan berbuat apa disana nanti. Apa akan ku ingat ibu pertiwi? Semenara banyak orang bercerita akan enakknya bekerja dinegeri orang dengan bergelimang uang. Tapi, sebenarnya yang akumnta buakanlah itu.
                        Ku ambil jurusan seni lukis disana. Setelah aku mendapatkan gelar strata satu, aku berniat melanjutkan strata dua kembali di tempat yang sama yaitu di Belanda mengambil tekhnik pertanian dan pangan. Karena setelah lulus nanti aku berniat kembali ke Indonesia, dan menerapkan ilmu ku di tanh pertiwi ku. Aku mengambil jurusan teknik pertanian dan pangan , karena aku rasa sampai saat ini Indonesia masih krisis dalam bidang pangan dan pertanian. Padahal jika ditelusuk Indonesia kaya akan sumber pangan , karena Indonesia merupakan negara agraris . Semuanya ada, namun, kenapa Indonesia masih membeli barang dari negara lain. Padahal barang yang negara beli ialah bahan pokok. Kemanakah hasil sumber daya alam Indonesia. Sementara, di pelosok Indonesia masih banyak sekali orang yang kelaparan , karena mereka kekurangan akan makan. Banyak sekali keluarga Indonesia yang terkena busung lapar. Padahal dari bebagai negara Indonesia termasuk penghasil sumber makanan pokok di dunia. Dengan keadaan negara ku yang selalu mebayangi, aku bertekad untuk selalu berusaha sekuat tenaga untuk dapat memulihkan keadaan Indonesia, baik di bidang apapun.  Dan setelah ini, aku akan menjadi seorang pengajar  di sebuah fakultas di Indonesia . Walau disini aku ditawari menjadi dosen dengan bayaran 4 kali lipat di bandingkan menjadi pengajar di Indonesiaukannya aku sombong akan ilmuku yang kini aku dapatkan, aku berusaha giat membangun negeriku, tumpah darahku, karena dari Indonesia lah aku dibesarkan, dari sini lah jiwaku menggantung. Tapi, aku memilih pulang ke Indonesia dan aku akan mengajarkan ke adik-adikku tentang ilmu pangan dan pertanian . Agar mereka bisa membangun pertanian yang lebih baik lagi di tanah pertiwi ini. Aku akan mengajar samapi nafas  diparu-paru ku ini habis walau telapak kakiku berdarah aku akan tetap berlari demi Indonesia.
                        Setelah ku peroleh beberapa ilmu dari negara kincir angin selama kurang lebih sepuluh tahun, ak kembali ke Indonesia. Untuk kembali ke negeriku tidak mudah. Karena sebelumnya aku terikat kontrak dengan perusahaan sasta disana. Tapi, dengan sekuat tenaga dan cara aku tempuh agar aku bisa keluar dari pekerjaan itu untuk pulang ke Indonesia. Selama aku disana aku dipekerjakan di sebuah perusahaaan di bidang angan, jabatan yang aku miliki sudah cukup bagus. Gaji yang diperoleh pun cukup menggoda, jika dibandingkan menjadi seorang dosen di Indonesia. Tapi, karena rasa cinta ku pada tanh air, karena ku ingin membangun negeriku dan janjiku kepada ibu, ku lepaskan jabatanku untuk negaraku.Setelah aku terbang dari Amsterdam ke Indonesia, aku seperti tak terbayang wajag kampungku. Bagaimana sekarang keadaan ayah, aku rindudan aku ingin mengsapkedua pipinya dan aku ingin pula mencium keningnya. Ku tapaki bandara Soekarno Hatta dengan semangat karena bapak telah menunggu bersama pak Karto. Seama sepuluh tahun aku pergi, bapak sengaja aku titipkan ke pak Karto . Karena aku khawatir dengan keadaannya. Pak Karto pun tak keberataan. Di sanggar itu , bapak ikut belajar melukis.
                        Ku lihat dua pria yang sudah mulai tua di lobi bandara. Aku rasa itu baoak dan pak Karto. Benar itu mereka , walau sudah sepuluh tahun aku pergi wajah mereka tetap sama. Tidak ada perubahan yang berarti.Ku hampiri bapak dan pak Karto. Ku gampai tangan meereka berdua, ku cium sampai aku meneteskan air mata. Tuhan terima kasih. Dari kampung ku berjuang , dari perahu reot ku bertahan hingga sekarang aku bisa menggapai anggan. Tapi, Tuhan perkenangkanlah diriku sejenak untuk membangun negeriku, setelah pendidikan yang aku peroleh dari negeri kincir iru. Perkenankanlah agar ilmuku bermanfaat nanatinya.
            “ Bapak, aku rindu engkau”kataku dalam pelukan bapak.
            “Nak, bapak mana yang ak rindu anaknya setelah anaknya berjuang”jawab bapak sambil mengelus-elus rambutku.
                                    Dua hari ku tinggal di Inonesia, aku mendatangi kampung halamanku. Sekarang sudah sedikit berbeda. Listik sudah mulai ada. Kududuk di bawah pohon dan merenungkan kembali kisah lalu ku. Ku berjalan mengitari hutan untuk dapat menuntut ilmu. Jembatan yang sudah tua ditambah sungai dengan aliran yang tak bersahabat menambah deretan pengorbananku untuk meraih kesuksesan. Aku Narni, dari desa dipelosok Indonesia, tak banyak orang tahu daerahku, listrik masih jarang ditambah medan yang sangat mematikan. Dari daerahku , aku harus menempuh jarak sekitar 20 km untuk pergi sekolah . Bayangkan saja, jika naik paerahu berapa lama waktu yang harus aku tempuh. Tak hanya perahu tua yang aku tumpangi , aku harus terlebih dahulu berjalan 5 km ke tepian sungai. Menuruni bukit, menyebrangi jembatan hingga harus pula melintasi sungai yang banyak sekali binatang buas . Banyak memang anak di daerahku yang tak sekolah .Keinginan  pertamaku untuk daerahku ialah membangun pembangkit listrik dengan tenaga air. Ada sebuah lokasi didaerahku yang bisa dimanfaatkan untuk membangkitkan tenaga listrik. Aku pelajari buku yang diberikan guruku, aku pelajari bagaimana cara membangkitkan listrik menggunakan tenaga air. Hingga suatu ketika, dimana aku sudah mengerti cara membangkitkan lstrik menggunakan bantuan air, aku mulai melakukan kegiatanku itu. Ku kumpulkan alat yang diperlukan, dan aku mengumpulkan saudaraku untuk mulai membangun pembangkit listrik itu. Seharian aku tak berhenti untuk berusaha agar alat yang aku ciptakan bisa berbuah manis. Tapi, setelah aku coba , alat itu tak berjalan dengan baik. Banyak orang yang mencemoohku akan hal ini. Aku sedikit gusar. Tuhan mengapa kau tak ijinkan aku untuk membangun listrik didaerahku, padahal aku sangat membutuhkannya. Karena kecintaanku kepada daerah asalku, walau banyak orang yang mencerca, aku tetap berusaha sendiri membangun pembangkit listrik itu. Ku bekerja sendiri setiap hari , ku bangun pukul 2 pagi , kucoba alatku setiap saat.  Entah apa sesungguhnya rencana Tuhan , sudah berulang kali aku berusaha namun tetap gagal. Hingga aku sempat ingin putus asa. Aku telah menghabiskan sekitar 3 bulan waaktu ku untuk membangun pembangkit listrik namun belum nampak hasilnya. Aku sebenarnya ingin berhenti, tapi, jika aku berhenti , bagaimana nasib desaku seterusnya. Apa akan tetap gelap gulita??? jika seperti ini tak akan maju negaraku, gimana bisa maju. Daerahnya saja, masih sangat tertinggal , untuk menggunaan listrik saja belum bisa. Dan karena ini merupakan salah satu keinginan terbesarku selama ini, dengan rasa yang optimis aku tetap berusaha , membangun pembangkit listrik itu.  Aku butuh waktu hampir 4 bulan untuk menyelesaikan alat pembangkit listrik itu. Aku berusaha sendiri, aku bangun sedikit demi sedikit. Ku kumpulkan tenagaku untuk daerahku. Banyak sekali orang yang mencemoohku karena ulahku yang aneh dimata mereka. Aku juga sempat di larang oleh bapak ibuku. Aku tak boleh keluar , jika aku tetap menjalankan aksiku itu, aku tidak dierbolehkan pergi ke sekolah. Aduhhh harus bagaimanakah aku ini. Tuhan tolong aku , buka kan lah pintu hati bapak dan ibuku agar aku bisa menyelesaikan impianku ini. Tetap saja, ibuku dan bapakku melarang, harus  bagaimana aku ini. Sedikit membangkang , aku tetap berusaha menjalankan aksiku itu dengan diam-diam. Aku keluar tengah malam disaat ibu dan bapak pergi ke laut. Aku sempatkan waktu beberapa menit setelah pulang sekolah untuk pergi ke tepi sungai yang alirannya cukup deras. Ahhh lamunan itu, aku ingat sekali , itulah pengorbanan sorang anak bumi.
Setelah cukup puas, akhirnya aku kembali Jakarta. Aku sudah siap menjadi dosen disana. Aku rasa keinginan ku akan terwujud. Akan kuajarkan anak didik ku tentang ilmu –ilmu pertanian agar mereka bisa mengubah Indonesia ke arahyang lebih baik. Agar mereka kembangkan tanah ini, agar saudara-saudaraku tak ada lagi yang kelaparan. Agar Indonesia lari dari keterpurukan , entah apa ini akan terjadi atau pun tidak, namun aku akan tetap gigih untuk mempertaruhkan pendidikan. Aku akan mendirikan sekolah yang layak bagi saudara-saudaraku di pelosok sana. Agar mereka juga merasakan indahnya mengenyam bangku pendidikan. Aku memang berpegang teguh terhadap ilmu dan pendidikanku. Aku ingn pendidikan yang telah aku raih , dapat aku manfaatkan walau dulu aku sangat susah payah untuk mendapatkannya karena itu merupakan roses. Walau banyak hujatan dari berbagai ihak , itu pun akan ku terobos. Akan ku korbankan cinta dan perasaanku demi ilmu. Karena menurutku ilmu lah pembentuk manusia. Tanpa imu apa kita bisa bertahan , menurutku mustahil. Karena dari ilmu – ilmu lah penemuan akan pangan berkembang, pengetahuan pun diciptakan oleh ilmu menurutku. Jadi, aku pun harus berilmu, karena orang yang berilmu itulah dirinya bisa terbentuk. Disamping ilmu , pasti ada penyebar ilmu itu. Ia adalah guru. Guru bagiku bapak atau ibuku. Apalagi setelah ibuku tiada, ku anggap guruku ibuku. Aku ingat salah satu puisi yang dikutip dari salah satu situs .

Puisi Bumi, Bukan Bumi

Hamparan tanah itu terlihat
Rindangnya pepohonan, pun hidup subur nian sejuknya
Ada pendopo, Mushola dan berbagai bangunan bernaung
Di bawah kesejukannya…

Kesejukan itu, nian indah oleh hadirnya Pemandangan
Dikala langkah kaki, mulai menapak
Bumi, bukan bumi itu… kian memukau
Ada rumah kayu sederhana , nan terbuka pintunya

Singgah disana sang suri tauladan..
Terpukau ku bisa bersua dan menuai wawasan
Beliau bergelar Guru spiritual bangsa
Gurunya para guru, para tokoh yang menyebutnya..

Beliau sederhana dalam busana
Berwibawa aura pribadinya, bijaksana sikapnya
Dan aku pun kian mengaguminya
Kagum akan petuahnya,

Dikala terdengar senandung hikmahnya
Setiap mata pun tertunduk pandang
Kepala spontan mengangguk,
Banyak bibir bungkam seribu bahasa,

Apabila langkah beliau menghampiri,
Indra mata tak mampu lagi menembus pandang
Melirik kesana-kemari
Akan terkulai sungkem,mengecup tangan mulianya.

sungguh engkaulah guru sejati..
Detik-detik hidupnya untuk dedikasi
Mendidik santri, dengan jujur nan bakti
Tiada keluh kesah, tiada pula gundah

Hatiku kian terpaut, pikiran yang gamang pun terbang melayang
Dikala..berkumpul bersamanya ,
Jua Segerombolan orang, Busananya serba putih….
Baju koko, kopyah, sarung jua sorbannya…
Sekilas memancarkan kemilau cahya

Bercahaya…bagai serpihan yang tertabur dari langit,
menjelma jadi jutaan garis cahya dalam lorong gelap,
lalu meresap bagai air dalam tiap pori-pori jiwa
Seantero mata negri secakrawala, bertandang ingin memandang

Bersemayam di hati.. Akan tumbuh tenteram dan ter-ayomi
Kala kaki masih berpijak, jua melangkah
Pada Bumi, bukan bumi. ini…….!!!
Dengan sekuat tenaga aku akan mempertaruhkan pendidikan Indonesia, aku akan tetap berlari untuk kemajuan negaraku.